Generator sinkron adalah mesin yang cukup kompleks dengan
kapabilitas yang ‘menarik’. Mesin ini
dapat menghasilkan real power (P,
[watt]) dan juga menarik/mensupali reactive
power (Q, [VAr]). Dengan demikian mesin ini menjadi sangat mumpuni
apabila didukung oleh system control yang baik.
Untuk mengetahui behaviour
dari generator sinkron, cara paling mudah adalah mengetahui karakteristiknya.
Karakteristik generator sinkron umumnya disajikan dalam beberapa kurva,
misalkan oper-circuit curve,
short-circuit curve, V-curve, dan capability
curve. Kecuali V-curve, biasanya generator besar selalu dilengkapi dengan
kurva-kurva tersebut di manual atau datasheet-nya.
Pada bagian pertama ini akan dijelaskan Capability
Curve terlebih dahulu. Bagian ini akan diuraikan bagaimana capability curve
dibuat dengan cukup detail. Dengan mengerti proses penyusunannya,
pembaca secara tidak langsung akan mengerti informasi apa saja yang terkandung
dalam kurva tersebut.
A picture is worth a
thousand of words. Setelah membaca tulisan ini, semoga kita dapat
menginterpretasikan capability curve dengan lebih baik.
Capability Curve (Kurva
Kapabilitas):
Adalah sebuah kurva yang merepresentasikan limitasi
kinerja sebuah mesin listrik (dalam kasus ini adalah generator sinkron), baik
itu limitasi internal (efek pemanasan pada lilitan stator dan rotor) maupun
limitasi external (prime-mover/penggerak
mula, atau yang lain). Secara teknis, kurva ini merupakan plot complex power
(S=P+jQ) pada tegangan terminal generator yang konstan. Dengan demikian, untuk
operasi yang optimal, generator harus bekerja di dalam area kurva tersebut.
Kinerja di luar kurva biasanya masih diizinkan, namun untuk durasi yang sangat
singkat.
Capability curve disajikan dalam bidang Cartesian (x-y
plane). Namun sumbu-sumbunya tidak menggunakan sumbu x-y, melainkan P-Q (real
dan reactive power). Pada saat ini ada 2 macam model dari capability curve:
Model
ini digunakan dengan berlandaskan pada pemodelan ANSI/IEEE Std C50/30. Sumbu x nya
adalah P, sedangkan sumbu Y nya adalah Q. Daerah operasi generator sinkron
berada pada kuadran I dan IV.
Model
ini populer di Eropa, UK, Australia dan beberapa negara lain. Sumbu x nya
adalah Q, sedangkan sumbu Y nya adalah P. Daerah operasi generator sinkron
berada pada kuadran I dan II.
Pada bahasan kali ini, capability curve tipe vertical akan digunakan.
Capability curve tipe horizontal adalah sama, hanya peletakan sumbunya saja yang
berbeda. Capability curve dibuat dengan menerapkan limitasi-limitasi agar generator bekerja pada area yang aman.
Batasan dalam capability curve:
Secara umum,capability curve memiliki beberapa batasan
antara lain sebagai berikut:
1) Arus stator (arus jangkar, arus armatur) tidak boleh
menyebabkan overheating pada lilitan stator. Dengan demikian, arus stator dalam
capability curve harus lebih kecil dari arus stator maksimum.
Sudah diketahui bersama dalam
persamaan real dan reactive power:
P=VI cosφ ==> P2=(VI)2
(cosφ)2
Q=VI sinφ ==> Q2=(VI)2
(sinφ)2
Dengan
P : Real power [Watt]
Q :
Reactive power [VAr]
V :
Tegangan terminal generator [Volt]
I :
Arus stator [A]
φ :
Sudut fasa antara gelombang tegangan dan arus
P2+ Q2=(VI)2
[(cosφ)2+(sinφ)2]
Dengan catatan bahwa jumlah
kuadrat fungsi sinus dan cosines adalah 1, maka:
P2+ Q2=(VI)2
Dari sini didapatkan batasan
pertama capability curve:
Daerah operasi generator adalah
berada di dalam bidang P-Q, berbentuk lingkaran berpusat di (0,0) dan
berjari-jari (VI). Hal ini ditunjukkan dalam gambar 3.
2) Generator
adalam mesin elektrik dinamis yang mengubah besaran mekanik dari turbin menjadi
listrik. JIka berlaku sebaliknya (generator mengubah daya listrik menjadi daya
mekanik, yang artinya generator berubah menjadi motor) maka akan terjadi
reverse power dan akan berdampak buruk pada turbin. Maka turbin harus dilindungi dari keadaan tersebut. Namun
reverse power misal 0.5% selama beberapa detik masih diizinkan, sesuai dengan desain turbinnya.
Dari sini didapatkan batasan kedua
capability curve:
Daerah membuat overlapping pada
batasan pertama, capability curve menyatakan generator hanya akan bekerja pada
daerah operasi P positif saja. Hal ini ditunjukkan dalam gambar 4.
3) Arus rotor
(arus eksitasi, If) tidak boleh menyebabkan overheating pada lilitan rotor.
Dalam bahasan power sending-receiving (Chapter yang membahas serah-terima daya anyata 2 sumber aktif), persamaan real dan reactive power pada batasan (1) di atas tidak relevan untuk digunakan. Hal ini dapat dilihat pada gambar 5,
yang menyatakan bahwa jika ada pertukaran daya antara 2 sumber aktif maka real
dan reactive power akan bergantung pada tegangan di kedua ujungnya, impedansi
antara keduanya, serta sudut beban (load angle, power angle, transmission
angle).
Persamaan P dan Q untuk gambar 5 adalah
Dengan melakukan sedikit perubahan matematis maka:
 |
| Add caption |
Dari sini didapatkan batasan
ketiga capability curve:
Dengan
membuat overlapping pada batasan kedua, dibuat batasan baru sebuah lingkaran
berpusat di (0, -V2/X) dengan jari-jari EV/X. Hal ini ditunjukkan
dalam gambar 6.
4) Sudut
beban harus lebih kecil dari sudut beban maximum agar generator tetap bekerja
pada daerah stabilnya.
Ini
merupakan persamaan linier dasar P=mQ+c dengan gradient adalah tangent sudut
beban. Pada kasus ini diambil sudut beban maksimum adalah 90 derajat.
Jika
P=0 maka Q=-V2/X
Dari sini didapatkan batasan
keempat capability curve:
Dengan
membuat overlapping pada batasan ketiga, dibuat batasan baru sebuah garis
dengan titik singgung di (0, -V2/X) dan sudut beban 90 derajat. Hal
ini ditunjukkan dalam gambar 7.
5) Pada saat
bekerja pada area –Q, maka temperature end-region pada sirkuit magnet stator
tidak boleh melebihi nilai maksimumnya.
Berkaitan dengan hal ini, belum
ada persamaan matematis yang dapat mendeskripsikan secara jelas.
Namun pabrikan generator sudah
membuat batasan tersebut, misal berdasarkan pengalaman.
Dari sini didapatkan batasan
kelima capability curve:
Dengan
membuat overlapping pada batasan keempat, dibuat batasan baru sebuah garis
lurus pada area Q-. Hal ini ditunjukkan dalam gambar 8.
Batasan
batasan tersebut biasanya digunakan
untuk menyusun capability curve. Namun, ada besaran lain yang harus
diperhitungkan namun jarang sekali digambarkan pada capability curve.
6) Pada saat
generator menghasilan real power, maka real power maksimum yang dikirim bukanlah
sebesar desain dari generatornya. Namun nilai real power adalah sebesar daya mekanik
yang dihasikan oleh turbin.
Dari sini didapatkan batasan
keenam capability curve:
Dengan
membuat overlapping pada batasan kelima, dibuat batasan baru sebuah garis lurus
yang samar pada area P+. Hal ini ditunjukkan dalam gambar 9.
7) Pada
pembangkit besar, umumnya berbasis thermal missal PLTU batubara, uap yuntuk
memutar turbin dihasilkan oleh boiler. Agar pembakaran berlangsung stabil,
boiler biasanya memiliki syarat daya minimum yang harus dihasillkan. Selain
kestabilan pembakaran, hal ini juga berkaitan dengan efisiensi bahan bakar.
Dari sini didapatkan batasan
ketujuh capability curve:
Dengan membuat overlapping pada
batasan keenam, dibuat batasan baru sebuah garis lurus yang samar pada area P+.
Hal ini ditunjukkan dalam gambar 10.
Pada umumnya, gambar 8 sudah
dipandang cukup. Namun batasan 6 dan 7 perlu pula menjadi sebuah perhatian.
Ref:
Power system stability and control.
Operation of Large Turbogenerator.
Electric Machinery Fundamental.
Malang, Sabtu 11 Jan 2014 19:53.